Hilang satu, tetap bersatu
Kami
bukan sekelompok gang atau kelompok-kelompok tidak jelas yang ada di lingkungan
sekolah yang suka memilih-milih teman. Kami dipertemuukan di kelas VIII,
tepatnya VIII-I SMPN 1 Karawang Barat.
Aku
Nurul Maryam Assyifa, sudah dekat terlebih dahulu dengan Yesica Fitri dan Pipit
Andriani. Seiring berjalannya waktu, aku, Yesica dan Pipit merapat ke Jessica,
Mira, Maya dan Desi. Selain mereka berempat, ada satu anak lagi, namanya
disamarin jadi Dede aja ya.
Kami
bersatu tidak ada unsur sengaja, yakni bersatu secara natural layaknya
persahabatan yang baru terbentuk karena sering kumpul bareng.
D’Cekker,
nama itu kita pilih juga secara tidak sengaja. Dari iseng-iseng belaka jadi
sebuah nama, yang artinya Delapan Cewek Keren. Kami selalu bersama-sama. Tapi,
namanya juga manusia, pasti punya kesalahan. Jadi, yang namanya berantem juga
sering, padahal sering cuma gara-gara hal sepele.
Hari itu, jam terakhir mata pelajaran Pendidikan
Agama Islam. Bu Laela meminta kami buat ngumpulin LKS. Aku dan yang lainnya
sudah mengunpulkan. Tidak terkcuali Jessica, karena dia beragama Budha. Dede
juga tidak ngumpulin, katanya terkhir dia ngumpulin dan belum dikembalikan.
Sampai pulang , Dede diam saja. Seolah-olah dia arah sama D’Cekker. Ya.. memang
dia dikenal gampang marah. Aku dan yang lainnya jelas kebingungan. Sore
harinya, Dede sms seakan dia gak mau jadi teman lagi dengan aku dan yang
lainnya. Waw, aku dan yang lainnya tambah bingung.
Esok harinya, kebetulan kelas VIII-I di suruh
upacara di Lapangan Karang Pawitan. Dede diam saja, dia Cuma mau ngomong sama
Pipit. Aku dan yang lainnya, jadi sengaja buat ngediemin dia seharian itu. Kita
mau lihat apa dia betah sendiri begitu. Ya.. ternyata, sampai pulang sekolah
dia diam aja. Jadi, aku dang yang lainnya juga sudah males, diemin aja deh.
Nah, hari Sabtu itu jadi puncak “hilangnya” dia dari
D’Cekker. Sabtu pagi, kami datang seperti biasa. Tidak ada masalah, tidak ada
keributan dan tidak ada tanda-tanda Dede akan “hilang”. Siangnya, aku kerja
kelompok. Dan kebetulan aku sekelompok sama Yesica, Pipit, Desi dan Dede.
Sekitar jam 10.00 bel pulang sudah bunyi, aku dan
anggota kelompokku lansung menuju ruang yang kosong untuk kerja kelompok. Sip,
semuanya sudah kumpul. Tapi, Dede cuma duduk di depan kelas. Aku, sebagai ketua
kelompok pastinya menyuruh dia masuk, agar cepat selesai. Tapi, dianya enggak
mau masuk. Padahal, sama Pipit juga sudah disuruh. Terus waktu aku mau manggil
dia lagi, dia justru pergi kek kelas temanyya yang enggak terlalu jauh dari
kelas buat kerja kelompok.
“Dede, sini” kataku, memanggil dia.
“Dari tadi kerja kelompoknya yang bener dong.”
Katanya membalas panggilanku.
Waw, aku kaget di bentak seperti itu. Karena dari
awal mulai kerja kelompok kami sedang serius, memang sih sedikit bercanda.
Karena aku kaget di bentak seperti itu, aku refleks bilang ke dia yang
macem-macem. Teman-temanku segera menenangkan. Sampe-sampe temanku yang biasanya
ngeliat aku cukup sabar, kaget aku marah seperti itu. Jessica, si perempuan
mirirp laki-laki itu langsung deh marah-marah waktu denger aku kaya gitu. Ya..
hari itu, bisa di bilang enggak terlupakan deh.
Hari Senin, cukup rame sih anak-anak di kelas
ngomongin hal itu.
“Emang gue
pikirin, bukan salah gue itu sih” aku berkata dalam hatiku.
Hari demi hari terlewati, melewatkannya dengan
sekelompok dengan Dede. Memang sedikit malas. Tapi, mau tidak mau memang
seperti itu struktur kelompokku.
Tidak berapa lama dari kejadian itu, aku dan
D’Cekker sudah mulai berbicara dengan
dia. Memang tidak sesering dulu. Tapi, lumayanlah memperbaiki hubungan.
Sejak kejadian itu, aku dan D’Cekker tidak main
dengan Dede lagi. Meskipun Dede sudah tidak bergabung lagi dengan D’Cekker, aku
dan D’Cekker tetap bersama.
Sekarang kami sudah duduk di kelas IX. Pastinya,
kami tidak sekelas lagi. Kecuali Yesica dan Pipit, mereka tetap sekelas.
Walaupun sudah terpisah-pisah kaya gini, hubungan baik anatara kami masih tetap
berjalan dengan mulus. Masih suka main, smsan, ngobrol dan pastinya
makan-makan. Hehe J
Meskipun sekarang kami hanya bertujuh, namanya tetap
“D’Cekker”. Dan tetap BERSATU.
Berikut unsur-unsur intrinsik dari cerpen diatas
Unsur-unsur Intrinsik
1.
Judul :
Hilang satu, tetap bersatu
2.
Tema :
Tetap Bersahabat
3.
Tokoh dan
watak:
- Nurul : Tritagonis
a. Cukup sabar : (Sampe-sampe
temanku yang biasanya ngeliat aku cukup sabar, kaget aku marah seperti itu.)
b. Pemarah
: (Karena aku kaget di bentak seperti itu, aku refleks bilang ke dia yang
macem-macem.)
- Dede
: Antagonis
a. Mudah
marah : (memang dia dikenal gampang marah.)
b. Tidak
mau mendengar kata orang : (Aku, sebagai ketua kelompok pastinya menyuruh dia
masuk, agar cepat selesai. Tapi, dianya enggak mau masuk.)
- Jessica
: Tritagonis
a. Pemarah
: (Jessica, si perempuan mirirp laki-laki itu langsung deh marah-marah waktu
denger aku kaya gitu.)
b. Penenang : (Teman-temanku segera
menenangkan.)
4.
Latar :
- Latar tempat : SMPN 1 Karawang Barat dan ruang kosong
(tepatnya VIII-I SMPN 1 Karawang Barat) dan (menuju ruang yang kosong)
- Latar waktu: Sabtu dan sekitar jam 10.00
(hari Sabtu
itu) dan (sekitar pukul 10.00)
- Suasana: menegangkan
(Karena
aku kaget di bentak seperti itu, aku refleks bilang ke dia yang macem-macem. Teman-temanku segera
menenangkan.)
5. Alur:
- Eksposisi
: (Kami bukan sekelompok gang atau kelompok-kelompok tidak jelas yang ada di
lingkungan sekolah yang suka memilih-milih teman)
- Pengenalan
tokoh : (Aku Nurul Maryam Assyifa, sudah dekat terlebih dahulu dengan Yesica
Fitri dan Pipit Andriani. Seiring berjalannya waktu, aku, Yesica dan Pipit
merapat ke Jessica, Mira, Maya dan Desi. Selain mereka berempat, ada satu anak
lagi, namanya disamarin jadi Dede aja ya.)
- Konflik
: (Hari itu, jam terakhir mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Bu Laela
meminta kami buat ngumpulin LKS. Dede
tidak ngumpulin, katanya terkhir dia ngumpulin dan belum dikembalikan. Sampai
pulang , Dede diam saja. Seolah-olah dia arah sama D’Cekker)
- Klimaks
: (Nah, hari Sabtu itu jadi puncak “hilangnya” dia dari D’Cekker. semuanya
sudah kumpul. Tapi, Dede cuma duduk di depan kelas. Aku, sebagai ketua kelompok
pastinya menyuruh dia masuk, agar cepat selesai. Tapi, dianya enggak mau masuk.
Waw, aku kaget di bentak seperti itu. Karena aku kaget di bentak seperti itu,
aku refleks bilang ke dia yang macem-macem.)
- Konflik
menurun : (Tidak berapa lama dari kejadian itu, aku dan D’Cekker sudah mulai berbicara dengan dia. Memang
tidak sesering dulu. Tapi, lumayanlah memperbaiki hubungan.)
- Penyelesaian
: (Sejak kejadian itu, aku dan D’Cekker tidak main dengan Dede lagi. Meskipun
Dede sudah tidak bergabung lagi dengan D’Cekker, aku dan D’Cekker tetap
bersama.)
6. Sudut
pandang : pencerita sebagai orang pertama pelaku utama
(Aku dan yang lainnya
sudah mengunpulkan. Tidak terkcuali Jessica, karena dia beragama Budha.)
7. Gaya
bahasa : Non baku, mudah dimengerti
8. Amanat
: - tidak memilih-milih teman dari ketenaran atau kekayaan
- hal
sepele jangan di perbesar, segera diselesaikan
- jangan cepat marah
- tidak membuat orang menjadi bingung,
jelaskan dengan jelas agar tidak keliru
- berkata dengan sopan kepada siapa pun
- menyelesaikan masalah tidak dengan emosi
- memberikan maaf kepada orang yang berbuat
salah pada kita
Satu helai daun jatuh tidak membuat
rantingnya ikut terjatuh
&
Tidak
menjadi SAHABAT bukan berarti tidak menjadi TEMAN