Pages

Kamis, 13 Oktober 2011

Puisi - Ibu


Ibu
Karya: Maya Fitriana


9 bulan kau mengandungku
Kau pertaruhkan nyawamu untukku
Disaat aku masih ada di kandunganmu
Kau tiada henti menyayangiku

Setiap  malam kau berdoa
Untuk keselamatanku
Tiada henti kau teteskan air matamu untukku
Dan tiada henti kau terus mendoakanku

Disaat aku telah terlahir  kedunia ini
Kau menangis bahagia
Disaat ku sakit
Kau selalu berdoa untuk kesembuhanku

Ibu kau sangat berarti bagiku
Kaulah hadiah terindah dalam hidupku
Kau rela berkorban untukku
Jujur kaulah pemenang dihatiku

Puisi - Keluarga Tercinta


Keluarga Tercinta
Karya: Nurul Maryam Assyifa


Aku cinta…
Aku cinta Ayah
Aku cinta Ibu
Dan aku pun cinta adik-kakakku
Aku sangat cinta keluargaku

Keluargaku…
Bukan keluarga yang kaya akan harta
Bukan keluarga yang memiliki segalanya
Juga bukan keluarga yang sempurna
Yang berjalan lurus tanpa rintangan

Keluargaku…
Mengalami perjalanan yang panjang
Yang penuh rintangan
Yang tentunya sulit untuk dilewati

Tetapi…
Keluargaku merupakan cahaya
Yang menerangi hidupku
Keluargaku merupakan pelangi
Yang memberi warna hidupku
Keluargaku merupakan petunjuk
Yang membawaku ke jalan yang baik

Tanpa keluargaku…
Hidupku seperti gelap
Hidupku seperti tidak berwarna
Hidupku seperti ruang hampa yang kosong


Tuhan…
Semoga saja
Itu hanya sekedar cobaan
Yang Engkau berikan
Yang tentunya dapat kulewati
Dan cepat terselesaikan

Tuhan…
Jagalah kelurgaku
Dalam keadaan apapun
Dan selalu berikan jalan yang terbaik
Untuk keluargaku

Cerpen - Hilang Satu, Tetap Bersatu



Hilang satu, tetap bersatu
Kami bukan sekelompok gang atau kelompok-kelompok tidak jelas yang ada di lingkungan sekolah yang suka memilih-milih teman. Kami dipertemuukan di kelas VIII, tepatnya VIII-I SMPN 1 Karawang Barat.
Aku Nurul Maryam Assyifa, sudah dekat terlebih dahulu dengan Yesica Fitri dan Pipit Andriani. Seiring berjalannya waktu, aku, Yesica dan Pipit merapat ke Jessica, Mira, Maya dan Desi. Selain mereka berempat, ada satu anak lagi, namanya disamarin jadi Dede aja ya.
Kami bersatu tidak ada unsur sengaja, yakni bersatu secara natural layaknya persahabatan yang baru terbentuk karena sering kumpul bareng.
D’Cekker, nama itu kita pilih juga secara tidak sengaja. Dari iseng-iseng belaka jadi sebuah nama, yang artinya Delapan Cewek Keren. Kami selalu bersama-sama. Tapi, namanya juga manusia, pasti punya kesalahan. Jadi, yang namanya berantem juga sering, padahal sering cuma gara-gara hal sepele.
Hari itu, jam terakhir mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Bu Laela meminta kami buat ngumpulin LKS. Aku dan yang lainnya sudah mengunpulkan. Tidak terkcuali Jessica, karena dia beragama Budha. Dede juga tidak ngumpulin, katanya terkhir dia ngumpulin dan belum dikembalikan. Sampai pulang , Dede diam saja. Seolah-olah dia arah sama D’Cekker. Ya.. memang dia dikenal gampang marah. Aku dan yang lainnya jelas kebingungan. Sore harinya, Dede sms seakan dia gak mau jadi teman lagi dengan aku dan yang lainnya. Waw, aku dan yang lainnya tambah bingung.
Esok harinya, kebetulan kelas VIII-I di suruh upacara di Lapangan Karang Pawitan. Dede diam saja, dia Cuma mau ngomong sama Pipit. Aku dan yang lainnya, jadi sengaja buat ngediemin dia seharian itu. Kita mau lihat apa dia betah sendiri begitu. Ya.. ternyata, sampai pulang sekolah dia diam aja. Jadi, aku dang yang lainnya juga sudah males, diemin aja deh.
Nah, hari Sabtu itu jadi puncak “hilangnya” dia dari D’Cekker. Sabtu pagi, kami datang seperti biasa. Tidak ada masalah, tidak ada keributan dan tidak ada tanda-tanda Dede akan “hilang”. Siangnya, aku kerja kelompok. Dan kebetulan aku sekelompok sama Yesica, Pipit, Desi dan Dede.
Sekitar jam 10.00 bel pulang sudah bunyi, aku dan anggota kelompokku lansung menuju ruang yang kosong untuk kerja kelompok. Sip, semuanya sudah kumpul. Tapi, Dede cuma duduk di depan kelas. Aku, sebagai ketua kelompok pastinya menyuruh dia masuk, agar cepat selesai. Tapi, dianya enggak mau masuk. Padahal, sama Pipit juga sudah disuruh. Terus waktu aku mau manggil dia lagi, dia justru pergi kek kelas temanyya yang enggak terlalu jauh dari kelas buat kerja kelompok.
“Dede, sini” kataku, memanggil dia.
“Dari tadi kerja kelompoknya yang bener dong.” Katanya membalas panggilanku.
Waw, aku kaget di bentak seperti itu. Karena dari awal mulai kerja kelompok kami sedang serius, memang sih sedikit bercanda. Karena aku kaget di bentak seperti itu, aku refleks bilang ke dia yang macem-macem. Teman-temanku segera menenangkan. Sampe-sampe temanku yang biasanya ngeliat aku cukup sabar, kaget aku marah seperti itu. Jessica, si perempuan mirirp laki-laki itu langsung deh marah-marah waktu denger aku kaya gitu. Ya.. hari itu, bisa di bilang enggak terlupakan deh.
Hari Senin, cukup rame sih anak-anak di kelas ngomongin hal itu.
 “Emang gue pikirin, bukan salah gue itu sih” aku berkata dalam hatiku.
Hari demi hari terlewati, melewatkannya dengan sekelompok dengan Dede. Memang sedikit malas. Tapi, mau tidak mau memang seperti itu struktur kelompokku.
Tidak berapa lama dari kejadian itu, aku dan D’Cekker  sudah mulai berbicara dengan dia. Memang tidak sesering dulu. Tapi, lumayanlah memperbaiki hubungan.
Sejak kejadian itu, aku dan D’Cekker tidak main dengan Dede lagi. Meskipun Dede sudah tidak bergabung lagi dengan D’Cekker, aku dan D’Cekker tetap bersama.
Sekarang kami sudah duduk di kelas IX. Pastinya, kami tidak sekelas lagi. Kecuali Yesica dan Pipit, mereka tetap sekelas. Walaupun sudah terpisah-pisah kaya gini, hubungan baik anatara kami masih tetap berjalan dengan mulus. Masih suka main, smsan, ngobrol dan pastinya makan-makan. Hehe J
Meskipun sekarang kami hanya bertujuh, namanya tetap “D’Cekker”. Dan tetap BERSATU.

Berikut unsur-unsur intrinsik dari cerpen diatas 
Unsur-unsur Intrinsik
1.                     Judul : Hilang satu, tetap bersatu
2.                     Tema : Tetap Bersahabat
3.                     Tokoh dan watak:
-    Nurul : Tritagonis
a.       Cukup sabar : (Sampe-sampe temanku yang biasanya ngeliat aku cukup sabar, kaget aku marah seperti itu.)
b.      Pemarah : (Karena aku kaget di bentak seperti itu, aku refleks bilang ke dia yang macem-macem.)
-    Dede : Antagonis
a.       Mudah marah : (memang dia dikenal gampang marah.)
b.      Tidak mau mendengar kata orang : (Aku, sebagai ketua kelompok pastinya menyuruh dia masuk, agar cepat selesai. Tapi, dianya enggak mau masuk.)
-    Jessica : Tritagonis
a.       Pemarah : (Jessica, si perempuan mirirp laki-laki itu langsung deh marah-marah waktu denger aku kaya gitu.)
b.      Penenang : (Teman-temanku segera menenangkan.)
4.                     Latar :
-    Latar tempat : SMPN 1 Karawang Barat  dan ruang kosong
               (tepatnya VIII-I SMPN 1 Karawang Barat) dan (menuju ruang yang kosong)
-    Latar waktu: Sabtu dan sekitar jam 10.00
                     (hari Sabtu itu) dan (sekitar pukul 10.00)
-    Suasana: menegangkan
                (Karena aku kaget di bentak seperti itu, aku refleks bilang ke dia yang           macem-macem. Teman-temanku segera menenangkan.)
5.      Alur:
-    Eksposisi : (Kami bukan sekelompok gang atau kelompok-kelompok tidak jelas yang ada di lingkungan sekolah yang suka memilih-milih teman)
-    Pengenalan tokoh : (Aku Nurul Maryam Assyifa, sudah dekat terlebih dahulu dengan Yesica Fitri dan Pipit Andriani. Seiring berjalannya waktu, aku, Yesica dan Pipit merapat ke Jessica, Mira, Maya dan Desi. Selain mereka berempat, ada satu anak lagi, namanya disamarin jadi Dede aja ya.)
-    Konflik : (Hari itu, jam terakhir mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Bu Laela meminta kami buat ngumpulin LKS. Dede tidak ngumpulin, katanya terkhir dia ngumpulin dan belum dikembalikan. Sampai pulang , Dede diam saja. Seolah-olah dia arah sama D’Cekker)
-    Klimaks : (Nah, hari Sabtu itu jadi puncak “hilangnya” dia dari D’Cekker. semuanya sudah kumpul. Tapi, Dede cuma duduk di depan kelas. Aku, sebagai ketua kelompok pastinya menyuruh dia masuk, agar cepat selesai. Tapi, dianya enggak mau masuk. Waw, aku kaget di bentak seperti itu. Karena aku kaget di bentak seperti itu, aku refleks bilang ke dia yang macem-macem.)
-      Konflik menurun : (Tidak berapa lama dari kejadian itu, aku dan D’Cekker  sudah mulai berbicara dengan dia. Memang tidak sesering dulu. Tapi, lumayanlah memperbaiki hubungan.)
-       Penyelesaian : (Sejak kejadian itu, aku dan D’Cekker tidak main dengan Dede lagi. Meskipun Dede sudah tidak bergabung lagi dengan D’Cekker, aku dan D’Cekker tetap bersama.)
6.      Sudut pandang : pencerita sebagai orang pertama pelaku utama
                          (Aku dan yang lainnya sudah mengunpulkan. Tidak terkcuali Jessica,       karena dia beragama Budha.)
7.      Gaya bahasa : Non baku, mudah dimengerti
8.      Amanat : - tidak memilih-milih teman dari ketenaran atau kekayaan
    - hal sepele jangan di perbesar, segera diselesaikan
    - jangan cepat marah
    - tidak membuat orang menjadi bingung, jelaskan dengan jelas agar tidak keliru
    - berkata dengan sopan kepada siapa pun
    - menyelesaikan masalah tidak dengan emosi
    - memberikan maaf kepada orang yang berbuat salah pada kita



Satu helai daun jatuh tidak membuat rantingnya ikut terjatuh
&
Tidak  menjadi SAHABAT bukan berarti tidak menjadi TEMAN